don’t you – jaemjen
inspired by taylor swift – don’t you. please loop the song while reading this fic. thank you
mungkin seharusnya jeno tidak belok kiri melainkan belok kanan menuju persimpangan, agar dirinya tidak melalui toko roti favoritnya dan berakhir berhenti memilih beberapa keping untuk dibawa pulang sebagai teman kegiatan membaca banyak referensi untuk tesisnya nanti.
karena sekali lagi, bahkan mungkin jeno seharusnya tidak menutup laptopnya dan meninggalkan paragraf yang belum sama sekali rampung, untuk sekedar mencari angin dan menghirup udara segar agar otaknya tidak runyam.
karena ketika jeno menerima kembalian uangnya dari sang bibi pemilik toko roti, jeno merasa keputusannya kali ini sangatㅡsangat salah.
“jeno? hei. nggak nyangka kita bakal ketemu disini. masih ingat aku kan, jen?”
sambil senyum polos lelaki di seberang jeno menampilkan kegirangan sebab sebuah kebetulan. jeno pucat pasi, menatap horor dan kemudian bergegas balik badan untuk berlari kencang tanpa menabrak sesuatu apa pun di depanㅡharapnya.
hanya pucat pasi dan senyum basa-basi yang terukir asri.
“h-hai, jaem. tentu aku masih ingat. you’re here?”
“senang kamu masih ingat aku. ya, aku disini sekarang, tinggal di apartemen seberang sana. kamu apa kabar jeno? you are always looking.. great.”
“oh.. sejak.. kapan kamu kembali?”
“mungkin tiga minggu lalu? perusahaan tempat aku bekerja membuka cabang baru disini, sebab itu mereka tugaskan aku untuk menjadi penanggung jawab dan ya.. here i am.”
jeno mengangguk kaku, kepalanya berat, kakinya lemas, perutnya mulas, dan hatinya kolaps.
“sudah berapa lama ya kita tidak bertemu? aku rindu kamu, jeno.”
jeno meneguk ludah, kerongkongannya mendadak kering. jemarinya menggenggam erat kantong plastik berisi roti yang mungkin tidak lagi hangat itu diakibatkan cuaca dingin dan hati yang dingin pula, sehabis mendengar kalimat aku rindu begitu mudah keluar dari mulut seorang laki-laki yang dulu sering menimpa bibirnya bungkam dengan kecupan hangat.
“dua tahun? sepertinya dua tahun. bagaimana studimu di kanada. berjalan dengan baik?”
“ya. semuanya berjalan dengan baik. selama berkuliah juga aku bekerja di salah satu perusahaan.”
“glad to hear that, aku ikut senang mendengarnya. omong-omong kamu apa kabar?”
“aku selalu baik. oh ya, kalau kamu tidak keberatan berkenan mampir?”
“mampir?”
“iya, mark sedang bereksperimen membuat cupcake. namun beberapa bahannya habis sehingga aku harus membelinya. mungkin kamu ingin mencobanya, kamu masih suka yang manis-manis kan?”
ah ya. jeno lupa akan satu hal. selain jaemin yang sudah menyelesaikan double degree di kanada dan kembali tiba-tiba tanpa kabar ke korea. jeno pun lupa bahwa jaemin sudah bertunangan dengan seseorang bernama mark, jeno seharusnya tidak pernah melupakan fakta itu. karena jeno pernah sempat melihat postingan instagram jaemin yang mengecup bibir mark dengan caption “he said yes, fiance.”
mungkin bagi jaemin, kandasnya hubungan mereka dua tahun lalu tidak berarti apa-apa. mungkin juga bagi jaemin, mereka berpisah secara baik-baik sehingga jaemin bisa dengan santainya menyapa jeno setelah dua tahun hanya saling mengetahui kabar dari postingan sosial media. namun tidak pernah sekali jeno merasa perpisahan mereka sepele, jeno memang yang memaksa jaemin untuk mengambil tawaran scholarship double degree ke kanada. untuk mengejar mimpi, untuk masa depan yang lebih baik.
“aku nggak mau yang, aku nggak mampu jauh dari kamu. hubungan kita gimana?”
“jaemin, everything will be okay. hubungan kita tetap berlanjut. cuma masalah jarak. it’s okay.”
“dua tahun, jeno. dua tahun kita nggak akan bisa bertemu.”
“jaemin masa depan kamu itu penting! ini salah satu cara untuk meraih mimpi kamu!”
“mimpi aku itu kamu! selalu ada di dekat kamu, melindungi kamu dan hidup bahagia sama kamu. itu mimpi aku, jen.”
“jaemin.. please? kesempatan kayak gini nggak datang dua kali. ambil, ya? ini peluang besar untuk karir kamu.”
“aku nggak bisa ldr, jen.”
“kita coba dulu.”
betapa naifnya jeno berpikir itu memanglah jalan terbaik dan sebagai kekasih yang baik pula, jeno harus mendukung jaemin, kan? namun dua bulan setelah mereka berhubungan jarak jauh. jaemin menelponnya setengah mabuk sambil mengatakan.
“jeno.. aku nggak bisa. aku nggak mampu jauh dari kamu. ini terlalu menyiksa, aku butuh kamu disini. aku butuh seseorang untuk aku genggam. kamu terlalu jauh, aku nggak punya harapan.”
lalu keesokan paginya hubungan mereka merenggang dan selesai tanpa ada gamblangnya penyelesaian. dua tahun berlalu, jaemin bahagia dengan kekasih barunya sedang jeno berusaha bahagia ditinggal cintanya.
“ah terimakasih, tapi maaf aku hari ini ada janji temu dengan kawan. mungkin lain kali?”
“oh ya-ya, nggak masalah. ini memang pertemuan kebetulan. maaf menyita waktumu, aku harap lain hari kita bisa mengobrol lebih banyak. senang bertemu dengan kamu lagi, jeno.”
“terimakasih, jaemin. sampaikan salamku pada mark. aku duluan ya? harus bersiap-siap dulu.”
“iya, sampai jumpa, jen.”
jeno lambaikan tangan singkat kemudian berbalik badan, berjalan hati-hati sebab salju putih yang jika salah injak bisa membuat tergelincir. hati-hati pula jeno menata hati, tidak.. jangan sekarang.. jangan menangis sekarang, kamu harus berjalan tiga menit lagi lalu selimut tebal siap memeluk ragamu, jeno.